GOJEK App

One app of variety solutions

Bahasa Indonesia
English

Dampak Positif GoMassage: Sukaesih Penebar Kebaikan di Rumah Ibadah

Dampak Positif GoMassage: Sukaesih Penebar Kebaikan di Rumah Ibadah
GoMassage · 30 Oct 2019

Sukaesih duduk di lantai rumah kontrakannya di kawasan Depok, Jawa Barat. Di sampingnya ada Musairi, suaminya yang selalu setia mendampingi Sukaesih. Tengah hari itu cuaca sedang panas-panasnya. Sukaesih sesekali mengelap keringat suaminya sambil tertawa dan melempar candaan.

Pasangan ini hampir selalu terlihat romantis bersamaan di manapun dan kapanpun. Tidak terkecuali saat Sukaesih melayani pelanggan GoMassage dari rumah ke rumah. 

“Tiap saya keluar dari rumah orang habis memijat dua jam misalnya. Dia selalu ada di luar rumah konsumen menunggu hingga selesai sambil tersenyum,” cerita Sukaesih.

Pertemuan Sukaesih dengan suaminya sangat tak terduga. Ia bercerita pertemuannya berawal dari kebiasannya berbagi dan memberi ke masjid terdekat rumahnya. Sudah hampir 10 tahun Sukaesih punya kebiasaan memberikan sebagian penghasilannya bagi pihak yang membutuhkan. Termasuk, secara konsisten memberikan 10 jerry can pembersih lantai ke masjid terdekat rumahnya. Upaya itu memang terdengar tidak seberapa. Namun, dalam momen itulah ia justru tanpa sengaja bertemu dengan suami masa depannya. Sang suami, Musairi saat itu menjadi pengurus masjid yang seringkali membantu Sukaesih saat ia menitipkan uang atau barang-barang bantuan kebutuhan masjid tiap bulannya. 

Selama lima tahun, Sukaesih dan Musairi tidak saling mengenal meskipun selalu bertemu. Musairi bercerita bahwa wajah Sukaesih selalu tertutup oleh helm atau masker tiap kali mendatangi masjid untuk memberikan bantuan. Pertemuan sebenarnya baru terjadi di sebuah acara pesta perkawinan seorang kawan. Tanpa menyadari mereka sebetulnya sudah sering bertemu di masjid dekat tempat tinggal masing-masing. Lewat kebiasaan memberi Sukaesih, ia akhirnya bertemu lelaki baik yang diidamkannya.

“Yang saya lakukan ini sudah banyak dilakukan sama orang sukses yang saya kenal,” kata Sukaesih. “Biasanya kalau kita sering sedekah dihindarkan dari musibah dan didekatkan dengan orang-orang baik.” ujar Sukaesih.

Ia percaya perbuatan baik akan berujung baik. Terbukti dari pertemuan dengan orang yang kini sangat mengasihinya.


Dua tahun lalu suasana bahagia tidak tergambar dalam kehidupan Sukaesih. Jangankan duduk bersama dengan orang terkasih, hubungannya dengan keluarga pun tak sedekat sekarang. Rumah tangga bersama suamipertamanya berujung perceraian, belum lagi utang yang membelit keluarganya sehingga keluarga besarnya kehilangan rumah satu-satunya. 

“Karena saya mau membahagiakan keluarga saya, saya sampai terbelit utang, akhirnya rumah orang tua saya dijual. Setelah kejadian itu suami pertama saya meninggalkan saya,” kenang Sukaesih yang saat ini sudah hidup bahagia bersama suaminya, Musairi.

Di tengah kesulitan hidup yang dihadapi Sukaesih, ia justru malah terinspirasi melakukan kebaikan seperti orang-orang sukses di sekitarnya lakukan. Bagaimana bisa, di saat-saat ekonomi membelit, ia malah ikut memikirkan kesejahteraan orang lain juga?

Pada saat itulah salah satu anggota keluarganya menyarankan agar ia bergabung menjadi mitra GoMassage. Tidak hanya dirinya, tapi dua adiknya pun ikut bergabung. Awalnya, orang tua Sukaesih menentang. Mereka beranggapan bahwa pekerjaan yang dilakukannya menyimpang dari nilai-nilai yang mereka anut.

“Awalnya ibu saya marah karena ia pikir ini adalah layanan pijat plus plus. Saya sampai dimaki-maki. Tapi saya terus lanjut karena saya yakin GoMassage itu bagus” kenang Sukaesih.

Akhirnya Sukaesih memberikan pengertian pada orang tuanya. Ia meyakinkan bahwa GoMassage itu profesional. Orang-orang yang bergabung di dalamnya harus melalui training dengan kualitas baik. Sukaesih pun menjelaskan pada ibunya bahwa ia bisa memilih gender konsumen yang akan dipijat sehingga ibunya tidak perlu khawatir akan layanan ini.

Upaya dan doa Sukaesih pun terbayar. Ibunya lambat laun membuka mata dan mulai memahami pekerjaan yang Sukaesih lakukan. Bersama dengan kedua adiknya, keluarga ini lambat laun keluar dari kesulitan ekonomi. Sukaesih mengenang bahwa profesinya yang dulu sebagai pedagang sayur belum berhasil mencukupi kebutuhannya sekeluarga. Belum lagi waktu yang tidak fleksibel membuatnya harus bangun dini hari pergi ke pasar dan setelah itu langsung berdagang.

“Semenjak saya bergabung di GoMassage udah berlipat-lipat cuma modal tenaga sama minyak gosok.” katanya. “Ibu saya sekarang malu sama saya,” katanya sambil tertawa. “Malah menghormati saya karena salah sangka. Adik-adik saya pun malah bantu ibu saya.”

Tidak hanya pekerjaan, Musairi yang kini tidak bekerja pun senantiasa mendampingi Sukaesih saat ia menjalankan tugasnya. Musairi bertugas sebagai bendahara keluarga mengatur dan mengalokasikan pendapatan utama. Musairi mengantar jemput Sukaesih. 

“Saya mikirnya dia kan udah kerja capek, saya mikirin masa masih harus pulang naik motor? Jadi saya kerjasama aja jadi supir pribadinya,” kata Musairi.

Hingga kini, Sukaesih masih terus konsisten melakukan kebiasaan lamanya, sambil terus menjadi mitra GoMassage ditemani suami tercinta. Ia berprinsip tidak akan pernah melepaskan kebiasaannya sesulit apapun kondisi ekonominya.

“Awalnya sedekah itu nggak kerasa hasilnya. Tapi lama-lama mendarah daging, kalau sudah mendarah daging itu kita minta itu Allah langsung ngasih,” kata Sukaesih. “Sedekah itu nggak bisa dimasukkan ke logika otak. Pokoknya Allah itu kayak sayang aja sama kita,”