GOJEK App

One app for every need

Growing At GO-JEK: Creating A Legacy For Society

Growing At GO-JEK: Creating A Legacy For Society
GoHr / 9 Nov 2016

At GO-JEK, dedicated teams create and design core program for Android/iOS platform. Bimo Bergaz, a senior back end lead, shares the experience of developing for back end platform at GO-JEK which is unique and compelling.

Menjadi bagian dari GO-JEK sejak awal berdiri membuat Bimo Bergaz atau Bimo (panggilan akrabnya) memiliki banyak pengalaman dan pelajaran. Beradaptasi dengan perubahan, bekerja tanpa arahan, dan bertemu dengan orang-orang berbeda latar belakang, telah menjadi makanan sehari-harinya.
 
Namun, hal-hal tersebut sepertinya telah menjadi bagian dari passion seorang core back end yang memiliki pembawaan berkarisma di GO-JEK ini. Sempat bolak-balik ke kota Bangalore untuk belajar, pada awal bulan November nanti Bimo rencananya akan pindah ke Bangalore for good. Tapi sebelum meninggalkan tanah air, Bimo memberikan beberapa tips untuk kita bagaimana caranya untuk bisa growing di GO-JEK.
 
Have A Sense of Ownership.
 
Waktu pertama kali ditanya seperti apa rasanya bekerja di GO-JEK, Bimo merasa kalau di GO-JEK itu bukan bekerja tapi berkarya. Ada pelajaran penting yang cukup mengubah hidupnya semenjak masuk di GO-JEK.  Dulu, Bimo selalu mikir bekerja hanya sekedar bekerja. Sekarang, ada kepuasaan tersendiri setiap kali selesai bekerja di GO-JEK karena hasilnya bisa dilihat secara nyata dan berdampak bagi orang lain.  
 
Bimo juga bilang, bekerja di GO-JEK itu harus punya sense of ownership yang tinggi. Contohnya, setiap kali ada bug atau masalah, kita gak boleh diam saja.  “Misalnya kita lihat history di GO-JEK gak berjalan, kita gak boleh nunggu di suruh, kalau kita ngerasa GO-JEK itu punya kita, secara inisiatif sendiri kita juga pasti akan langsung ngebenerin bug tersebut”, Bimo Bergaz.
 
Dan orang-orang dengan inisiatif serta sense of ownership yang tinggi yang sebenarnya Bimo butuhkan di dalam timnya.  Buat Bimo, dia sangat perlu orang yang agile. Bimo gak peduli apakah orang itu ngodingnya benar atau salah, tapi yang penting adalah inisiatif masing-masing.
 
Do Not Stop Learning.
 
Ada satu hal menarik lainnya dari seorang Bimo Bergaz. Meski saat ini Bimo bertanggung jawab dalam team Core Back End di GO-JEK, Bimo justru bukanlah seorang lulusan informatika melainkan jurusan fisika dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung.
 
Pengalamannya belajar ngoding didapat setelah lulus kuliah. Sebelum bergabung di GO-JEK, Bimo beberapa kali pindah tempat bekerja seperti Wego dan terakhir bergabung di Nostra.  Saat ini, Bimo memegang team yang terdiri dari 8 orang. Bagi Bimo, salah satu keuntungan bekerja di GO-JEK adalah punya banyak kesempatan belajar. Belajar pun bisa dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.

Beberapa orang justru mungkin khawatir akan persaingan dengan banyaknya orang asing yang masuk ke GO-JEK.  Tapi, bagi Bimo hal tersebut justru menjadi peluang.

Hal yang bisa dipelajari dari tim India bagi seorang Bimo adalah mereka selalu punya banyak referensi dari buku.  Hampir semua hal mereka tau berkat membaca. Referensi yang beragam, ditambah dengan pengalaman yang dimiliki, mereka jadi tau kapan dan bagaimana menerapkan textbook tersebut untuk case yang  dihadapi.

Sementara untuk orang Indonesia, ada satu lagi nilai plus yang dimiliki: yaitu sifat eksploratif dan kreatif.  Bayangkan kalau orang-orang Indonesia yang kreatif mau lebih banyak membaca buku dan memiliki banyak referensi.  Bimo yakin, tim Indonesia akan sangat bisa bersaing dengan siapapun. Karena di GO-JEK, kesempatan itu ada dan terbuka lebar.
 
Bimo jadi salah satu orang yang mau mengambil kesempatan untuk belajar ke Bangalore India. Salah satu kawasan teknologi di India. Yang rencananya, akhir tahun ini Bimo akan pindah kesana untuk belajar lebih banyak lagi. 

Dan seperti apa kata Bimo “There could be a great adventure behind every walls. Just go out and play. Explore your curiosity responsibly”.