GOJEK App

One app of variety solutions

Bahasa Indonesia
English

Dampak Positif GoCar: Joko Kristiyanto Pendidik dari Pinggiran Bengawan Solo

Dampak Positif GoCar: Joko Kristiyanto Pendidik dari Pinggiran Bengawan Solo
GoCar · 31 Oct 2019

Lahir dan besar di lingkungan kumuh pinggiran Sungai Bengawan Solo, Joko Kristiyanto melihat bahwa ada hal yang harus berubah dari lingkungannya. Di lingkungan tersebut kebanyakan orang tua bekerja siang malam menjadi pengumpul barang-barang yang bisa didaur ulang. Sementara itu, anak-anak dilepas begitu saja tanpa banyak pengawasan. Lelaki paruh baya ini menilai mesti ada perubahan yang masuk ke lingkungannya. Salah satunya adalah melalui pendidikan. Ia punya tekad kuat dan bulat. Ia yakin suatu saat masyarakat dan lingkungan tempatnya berasal akan maju dan berkembang. 

Dengan semangat perubahan itu, Joko kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Sinar Pelangi pada Juni 2018 yang berfokus pada anak-anak tidak mampu di lingkungan kumuh pinggir Sungai Bengawan Solo. Yayasan ini sebetulnya sudah berjalan sejak 2007. Namun, baru beberapa bulan berjalan mesti tersapu banjir yang menyebabkan bangunannya hanyut diterjang air Sungai Bengawan Solo. 

“Ya saya tinggal di sini berasal dari sini, dan saya melihat ada mereka butuh pendidikan, mereka butuh sesuatu yang baru, yang biasanya mereka ikut mulung ya akhirnya mereka bisa belajar, bisa jadi nanti untuk masa depan mereka,” kata Joko.

Berawal dari ruang-ruang kelas terbuat dari bambu tanpa sekat beralaskan tikar, yayasan ini kini telah berkembang menjadi bangunan sederhana bersekat untuk memisahkan kelas-kelasnya. Sistem pembiayaan ini pun berpegang pada prinsip seikhlasnya dan sebisanya. Awalnya sekolah ini gratis, tapi kini dikenakan biaya Rp20 ribu per bulan bagi mereka yang sanggup membayar.

Pada awalnya Joko mengajar sendiri dengan 60 orang murid. Baru kemudian pada akhir 2008 seorang guru bergabung disertai kedatangan guru-guru lainnya. Mulai pada 2012 banyak guru yang datang. Tidak hanya itu, banyak mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang ikut mengajar.

“Jadi, di sini mereka membantu sambil membuat skripsi. Di sini gurunya yang yang aktif sekarang ada 3. Ada istri saya yang ikut dulu pernah saya ikutkan untuk pelatihan dinas pendidikan, dan sekarang di rumah dia bantu-bantu,” kata Joko.

Seiring berjalannya waktu, ternyata Yayasan yang awalnya berfokus pada anak-anak ternyata juga diminati para orang tua. Di Yayasan ini para orang tua diajarkan bagaimana cara menghindari kekerasan dalam keluarga termasuk pengetahuan soal pola asuh anak.

“Sebenarnya pendidikan untuk keluarga, kita tidak bisa memisahkan pendidikan anak usia dini dengan orang tua,” kata Joko. “Jadi kalau orang tidak diajak belajar bareng-bareng itu tidak bisa. Karena anak itu apa yang dilihat, didengar dan dirasa, itu yang dilakukan.’

Joko menilai bahwa belajar tidak eksklusif milik anak-anak. Orang tua pun semestinya terlibat. Mereka juga semestinya ikut terlibat dalam kegiatan mencari pengetahuan termasuk soal bagaimana mengajari anak mereka baca tulis, bagaimana memberikan contoh soal mengantri, memberi contoh kedisiplinan, dan tata krama.

Kepeduliannya terhadap pendidikan berawal dari peranannya saat membantu sebagai pegawai honorer Dinas Pendidikan di bagian Pendidikan Non-Formal. Ia beforkus pada melakukan pendataan, dan membantu masyarakat yang membutuhkan pendidikan non-formal. Salah satunya fokus pada pelatihan kewirausahaan atau kursus spesialisasi untuk memacu masyarakat yang bisa jadi buta huruf atau tidak punya usaha agar mau belajar. 

Joko menyadari bahwa untuk memiliki visi sepertinya, ia butuh pendapatan dengan waktu yang fleksibel. Ia mulai mendaftarkan diri sebagai mitra GoCar pada akhir 2016, berawal dengan meminjam mobil saudaranya.

“Saya pikir bergabung dengan GoCar sesuatu yang luar biasa, karena di sisi kegiatan-kegiatan saya, kegiatan sosial, kegiatan PAUD, keliling-keliling. Dengan GoCar, ternyata bisa hidup, dan bisa sesuai dengan waktu saya,” ujar Joko.

Hingga kini Joko membagi waktu sehari-harinya berkendara bersama GoCar sambil mengajar di yayasannya. Ia berharap hal yang dilakukannya bisa bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi inspirasi untuk memajukan kampungnya.

“Harapan saya dari anak-anak didik saya di sini, ya paling tidak bisa ikut menyumbangkan pikiran buat negara, buat bangsa, dan yang penting mereka tidak saling membedakan antara sesama manusia,” jelas Joko. “Jangan sampai jadi stagnan. Jadi melalui pendidikan ini mereka harus berani terbuka, berani berubah.”