Untung atau Buntung?

Ini dia pertanyaan ultimate bagi semua wirausahawan. Gak jarang banyak dari pelaku usaha yang ketika ditanya apakah usahanya sudah untung atau belum, tidak bisa menjawab dengan pasti.

Semisal jika ditanya, “apakah kamu sudah meraup keuntungan atau jangan-jangan masih belum Break Even Point (BEP).” Umumnya para pelaku usaha akan menghela nafas dan berpikir sejenak untuk menjawabnya. 

Banyak dari mereka yang beranggapan, selama masih ada uang masuk dan cukup untuk membiayai operasional, artinya untung. Sebaliknya, jika uang masuk tidak bisa mencukupi kebutuhan operasional, artinya buntung.

Apakah semua usaha yang bisa terus berjalan itu pasti disebut untung?

Apakah semua usaha yang buntung itu lantas harus langsung ditinggalkan?

Jawabannya sudah pasti tidak. Kenapa?

Karena dalam menjalankan sebuah bisnis, ada yang disebut dengan siklus keuntungan, di mana biasanya sebuah usaha dimulai dari rugi terlebih dahulu, kemudian seiring naiknya penjualan, uang masuk sudah bisa mulai menutup biaya operasional, kemudian menjadi laba.

Konsep dan pengertian biaya menjadi sangat penting karena semua pelaku usaha harus bisa memisahkan biaya variabel dan biaya tetap.

  • Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang besarannya sangat dipengaruhi oleh berapa banyak penjualan dalam satu periode. Semakin banyak barang yang kamu jual, maka biaya variabel akan mengikuti. 

Contoh dari biaya variabel adalah biaya pembelian persediaan, bahan baku, biaya pengemasan, biaya ongkir serta biaya iklan dan marketing lainnya.. Idealnya harga jual sebuah barang mampu menutup biaya variabelnya atau disebut dengan margin.

  • Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang akan tetap ada dan tidak bergantung pada naik turunnya penjualan. Contoh dari biaya tetap adalah biaya pekerja, biaya sewa ruko, biaya listrik, biaya pemasaran, biaya bunga pinjaman, dan lain-lain.

Meskipun penjualan menurun, besaran biaya pekerja, sewa, listrik, dan bunga pinjaman akan tetap sama. 

Kondisi di mana margin masih belum bisa menutup biaya tetap disebut dengan periode merugi. Ketika margin mampu menutup biaya tetap disebut dengan BEP atau titik impas. Ketika margin melebihi biaya tetap maka usaha disebut mampu mencetak laba bersih. 

Secara garis besar, siklus usaha digambarkan seperti ilustrasi di bawah. Sebagai catatan, setiap usaha pasti mengalami pasang surut dan itu semua tergantung pada pengelolaan.

Dari kacamata laba atau rugi, pada umumnya ada tiga tahap dalam siklus usaha yang menentukan apakah sebuah usaha layak untuk diteruskan:

1. Periode Merugi

Sangat wajar bagi sebuah usaha untuk melalui periode merugi di awal. Hal ini disebabkan wirausahawan mengeluarkan biaya tetap yang sifatnya sebagai starter yang kebanyakan adalah biaya-biaya tetap seperti disebutkan di atas.

Namun, selama usaha kamu masih bisa mencatat margin positif, maka yang perlu kamu lakukan adalah menambah jumlah pelanggan dan penjualan sampai margin mampu menutupi biaya tetap. 

2. Periode BEP atau Titik Impas

Ibarat main video game, periode ini adalah sebuah checkpoint atau pencapaian yang paling ditunggu oleh pelaku usaha. Ketika sampai di periode BEP, kamu sudah yakin bahwa penjualan kamu sudah bisa menutupi semua biaya meskipun masih impas.

Di sini kamu sudah bisa sedikit bernafas lega karena kamu sudah tidak bergantung pada modal awal usaha.

Penting juga bagi kamu untuk bisa memprediksi kapan kamu akan mencapai titik BEP agar kamu bisa menilai kecukupan modal. Caranya bagaimana? Dengan membandingkan jumlah unit margin dan biaya tetap.

Jika margin yang kamu dapat dari menjual satu buah barang adalah Rp20 ribu, dan biaya tetap bulanan adalah Rp1 juta maka kamu perlu menjual minimal 50 barang supaya sampai ke BEP.

Selain itu, kamu juga dapat menggunakan aplikasi kasri seperti MOKA dan GoKasir yang dapat membantu kamu untuk membuat laporan keuangan usaha dan kemudahan lain yang didapatkan adalah akses laporan keuangan secara real-time. 

3. Periode Laba

Periode laba adalah periode di mana usaha kamu bisa dibilang mandiri karena sudah tidak bergantung pada modal lagi, baik itu modal sendiri maupun modal pinjaman. Secara sederhana, modal awal sudah bisa dikembalikan dari keuntungan produk usaha. 

Di titik ini kamu sudah memiliki cukup pelanggan dan volume penjualan untuk bisa menutup semua biaya operasional. Di sini juga kamu bisa memutuskan apakah total laba yang kamu miliki mau kamu gunakan untuk menambah jumlah pegawai, membuka cabang baru, atau berjualan produk baru.

Kenapa sih penting banget buat kamu untuk selalu paham kamu berada di periode atau siklus usaha yang mana? Karena strategi dan prioritas pada masing-masing periode tersebut juga berbeda-beda.

Yang jelas kamu harus sanggup menilai seberapa lama kamu bisa bertahan dalam keadaan merugi dan apakah modalmu cukup untuk menutup kerugian selama masa itu. Jika kamu sudah memiliki strategi yang baik, pengambilan keputusan dalam usaha akan semakin mantap.

Modul FinanSiap

Atur keuangan pribadi agar kamu bisa #FinanSiap

Modul 1: Perencanaan Keuangan

Mau beli rumah atau melanjutkan studi ke luar negeri? Yuk, tentukan tujuanmu dan rencanakan keuanganmu dari sekarang!
Lebih Lanjut

Modul 2: Pengenalan Jenis Investasi

Ingin belajar investasi? Bingung bedanya investasi saham dengan reksa dana? Mana yang lebih baik, investasi emas atau properti? Cari tahu di sini!
Lebih Lanjut

Modul 3: Investasi Saham untuk Pemula

Mau investasi saham tapi bingung mulai dari mana? Kenali manfaat dan risikonya dengan belajar investasi saham di sini!
Lebih Lanjut