Pernah gak kamu ngalamin hal kayak gini. Lagi santai-santai bersepeda, gak ada angin gak ada mendung, tiba-tiba turun hujan lebat. Yang niatnya mau olahraga supaya badan sehat, malah ujungnya jadi basah kuyup dan masuk angin. Mau kesal pun percuma, masak mau marah-marah ke hujan.

Hal seperti ini gak datang sesekali, kadang kita berpotensi untuk berada pada situasi di luar kendali, yang menghalangi atau menghambat upaya kita untuk mencapai tujuan. Ini yang sering kita sebut dengan risiko. 

Dalam dunia keuangan, banyak juga dijumpai risiko yang membuat kita bisa mengalami kerugian. Contoh, kamu lagi mau traveling dari Jakarta ke Singapura dan menukarkan uang Rupiah ke Dollar Singapura dengan nilai tukar tertentu. 

Setelah 2 minggu, kamu memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dan ketika kamu hendak menukarkan kembali Dolar Singapura ke Rupiah, ternyata nilai tukar Rupiah terhadap Singapura sudah menguat dibandingkan 2 minggu lalu. Hal ini membuat nilai Rupiah yang kamu terima menjadi lebih sedikit. Ini yang kita sebut dengan risiko nilai tukar atau foreign exchange rate atau sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan satu unit mata uang negara lain.

Nah, untuk memudahkan kamu mengenali risiko-risiko keuangan, kamu bisa memetakan dengan memadukan faktor severity kerugian yang mungkin timbul (besar vs kecil), dan faktor frekuensi kejadian risiko (jarang vs sering). Dari sana, kamu akan punya 4 kuadran peta manajemen risiko: 

  1. Risiko yang bisa sering terjadi namun akibat kerugiannya kecil
  2. Risiko yang bisa sering terjadi dan akibat kerugiannya besar
  3. Risiko yang jarang terjadi namun akibat kerugiannya besar
  4. Risiko yang jarang terjadi dan akibat kerugiannya kecil 

Selanjutnya setelah memetakan risiko, kamu perlu tahu tindakan yang bisa kamu ambil jika ada potensi risiko, yaitu:

  1. Risk Retention, artinya kamu mengambil sikap untuk menerima risiko yang mungkin terjadi
  2. Risk Prevention, artinya kamu berusaha mengurangi risiko dengan mengambil tindakan-tindakan tertentu sebelumnya
  3. Risk Transfer, artinya kamu memindahkan penanggungan risiko kepada pihak lain 
  4. Risk Avoidance, artinya kamu mengambil sikap untuk menghindari tindakan yang bisa menimbulkan risiko terjadi

Tindakan-tindakan diatas bisa kamu ambil pada situasi yang sudah kamu kelompokkan pada kuadran risiko sebelumnya. Misalnya, pada kuadran III, kamu bisa mengambil tindakan risk transfer

Kondisi riil yang masuk ke dalam kuadran III adalah kehilangan handphone atau gawai. Pada kehidupan seperti sekarang ini, handphone menjadi bagian paling penting dalam segala aspek. Misalnya yang paling ringan dan umum digunakan adalah untuk berkomunikasi, bermain game, bekerja sampai urusan bisnis.

Apalagi dengan menggunakan GoPay hidupmu jadi makin mudah! Bayar ini-itu gak perlu ribet dan kamu bisa bayar ini-itu lewat handphone sambil tetap rebahan. Namun, lain cerita ketika kamu kehilangan handphone. Perasaan kesal dan bete pasti menyelimuti, mana mungkin bisa rebahan dengan tenang. Eits, tapi jangan khawatir. GoPay punya program Jaminan Saldo Kembali. Bahkan kamu dapat melakukan klaim kehilangan saldo hingga 60 hari setelah kejadian dan saldo yang hilang akan dikembalikan 100% sesuai dengan jumlah terakhir GoPay terakhir sebelum handphone kamu hilang. Jadi, gak perlu risau.

Terus bagaimana menyiasati risiko dalam berinvestasi?

Di dalam dunia investasi pun banyak dikenal risiko-risiko lain seperti risiko nilai suku bunga, risiko kredit, risiko pasar dan lain-lain. Menariknya, karena teori ekonomi bilang bahwa kita bereaksi terhadap insentif, seringkali dalam berinvestasi kita terlalu fokus kepada imbalan saja dan lupa terhadap risiko. 

Lalu bagaimana kita menghadapi risiko-risiko keuangan, terutama dalam merencanakan keuangan dan berinvestasi? Haruskah kita takut sehingga gak berani ambil keputusan?

Tentu tidak.

Kamu perlu memadukan kemampuanmu untuk mengenali profil dirimu sendiri dengan baik dan pengetahuan tentang risiko-risiko investasi, karena setiap keputusan yang akan diambil bersifat sangat personal. 

Kamu yang baru ingin memulai berinvestasi, disarankan untuk memilih investasi yang memiliki risiko rendah, seperti deposito surat utang negara. Tokopedia Reksa Dana juga bisa jadi bahan pertimbangan kamu. Karena, kamu bisa membeli reksa dana mulai dari Rp10.000 dengan proses cepat dan tanpa ribet.

Kamu yang mungkin sibuk dan gak punya waktu untuk belajar tentang instrumen investasi secara berkala. Kamu bisa mulai dengan Tokopedia Emas. Mengapa? Emas adalah salah satu jenis instrumen investasi yang cenderung likuid dan sangat dekat dengan investor pemula. Meski demikian, emas adalah bentuk investasi jangka panjang, sehingga keuntungan dari investasi emas tidak bisa dirasakan dalam waktu singkat.

Lebih lanjut, seseorang yang sudah berpengalaman dan memiliki uang dingin lebih banyak, akan cenderung untuk memilih investasi yang berisiko moderat atau tinggi, seperti reksadana atau saham.

Disiplin menerapkan manajemen risiko dalam setiap tindakan yang kamu lakukan, akan membantu kamu terhindar dari kesalahan dalam mengambil keputusan. 

Warren Buffet pernah berkata “Risk comes from not knowing what you are doing.” Oleh karena itu, kamu perlu cari tahu dulu tentang kondisi yang kamu sedang kamu hadapi. 

Ketahui fakta dan data yang bisa menyokong keputusan kamu. Dengan demikian, kamu bisa mengelola dan berdamai dengan risiko-risiko keuangan.

Modul FinanSiap

Atur keuangan pribadi agar kamu bisa #FinanSiap

Modul 1: Perencanaan Keuangan

Mau beli rumah atau melanjutkan studi ke luar negeri? Yuk, tentukan tujuanmu dan rencanakan keuanganmu dari sekarang!
Lebih Lanjut

Modul 2: Pengenalan Jenis Investasi

Ingin belajar investasi? Bingung bedanya investasi saham dengan reksa dana? Mana yang lebih baik, investasi emas atau properti? Cari tahu di sini!
Lebih Lanjut

Modul 3: Investasi Saham untuk Pemula

Mau investasi saham tapi bingung mulai dari mana? Kenali manfaat dan risikonya dengan belajar investasi saham di sini!
Lebih Lanjut