Mengapa Ada Istilah Market Bullish atau Bearish?

Kamu pasti pernah mendengar atau membaca, “Wah pasar lagi bullish banget nih,” atau kamu melihat salah satu influencer saham yang mengeluh, “Kenapa bearish banget sih.”

Nah, yang jadi pertanyaan kenapa ada dua istilah tersebut. Sebagai investor pemula tentu saja kamu akan menemukan banyak sekali istilah di pasar modal. Berinvestasi saham bakal terasa membingungkan kalau istilah-istilahnya aja belum dipahami. Memahami istilah-istilah investasi dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai investasi. 


Sederhananya bearish dan bullish adalah perumpamaan sebuah tren atau pergerakan dengan nama hewan yaitu, yaitu banteng (bull) dan beruang (bear). Banteng menyerang lawannya dengan menanduk dari bawah ke atas, sedangkan beruang menyerang dengan mencakar menggunakan tangannya dari atas ke bawah. 

Dalam sebuah tren investasi, biasanya pelaku pasar membutuhkan penanda dalam kurun waktu tertentu untuk memutuskan apakah mereka akan membeli atau menjual sebuah saham. 

Investor akan menentukan strategi agar tidak boncos dalam aktivitas transaksi di bursa. 

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa market bullish adalah aktivitas bursa yang sedang “mengamuk” atau kondisi pasar yang tumbuh positif. Kondisi pasar saham yang berada dalam kondisi bullish umumnya dipengaruhi kondisi ekonomi dan politik yang sedang stabil. Ada juga fase di mana kondisi bullish menjadi tanda bahwa pasar saham baru aja terlepas dari kemerosotan.

Banyak faktor yang membuat kondisi pasar bullish selain makroekonomi. Misalnya, investor melihat bahwa ada prospek cerah pada sebuah industri sehingga mereka berbondong-bondong untuk membeli saham di industri tersebut. Alhasil, karena permintaan saham yang tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga saham. 

Hal lain yang lebih teknis dan bisa mempengaruhi kondisi pasar adalah penguatan nilai tukar. Contohnya, kebijakan moneter Bank Indonesia ternyata mampu membuat rupiah menguat secara signifikan dan berimbas pada psikologi pasar yang melihat Indonesia akan tumbuh jauh lebih cepat. Ujungnya, kondisi pasar saham juga ikut terdongkrak.

Sedangkan, market bearish merupakan tanda kondisi bursa sedang “mencakar” ke bawah atau pasar cenderung negatif. Kondisi ini ditandai dari Indeks Saham Gabungan (IHSG) yang terjun bebas atau menurun (downtrend) dalam periode tertentu. Investor yang melihat grafis downtrend cenderung percaya bahwa hal negatif bisa terjadi pada pasar. Efeknya, para investor bisa saja panik dan menjual rugi saham mereka.


Selain bullish dan bearish, ada juga istilah lain yang dikenal sebagai trend sideways. Istilah ini akan muncul setelah tren bullish atau bearish dan menandakan pelaku pasar sedang melakukan konsolidasi untuk menentukan arah tren selanjutnya, apakah akan mengubah arah atau mempertahankannya.

Lalu, bagaimana menyusun strategi dalam menghadapi bullish, bearish, atau sideways? Kunci dari strategi adalah untuk menjaga aset investasi kamu dari kerugian bahkan bisa membawa kamu untuk mengambil peluang dari kondisi pasar tersebut. Berikut beberapa strategi yang bisa kamu pakai: 

  1. Akumulasi

Strategi akumulasi adalah strategi membeli saham pada area tertentu. Pada fase akumulasi, tidak disarankan untuk mengincar satu titik harga saja, melainkan menggunakan target rata-rata harga beli. Ini mungkin terkesan teknis, tetapi ketika pasar sedang menghadapi kondisi tertentu biasanya akan membuat pola yang bisa kamu baca. Kamu juga perlu memperhatikan laporan keuangan, hasil rapat umum pemegang saham, dan rencana bisnis perusahaan. Hal ini berfungsi untuk menjaga kerugian besar yang harus kamu tanggung jika ternyata asumsi tren kamu tidak sesuai perkiraan.

Strategi akumulasi bisa kamu pakai pada saat kamu melihat ada tanda pembalikan arah dari trend bearish. Harapannya kamu bisa mengoleksi saham pada harga bawah dan kamu bisa mendapatkan capital gain saat harga naik di trend bullish

  1. Distribusi

Strategi distribusi adalah kebalikan dari akumulasi, di mana kamu menyiapkan langkah yang tepat dalam menjual saham yang kamu miliki. Ada dua alasan kenapa kamu perlu melakukan distribusi, pertama karena kamu sudah mencapai target expected return yang berasal dari capital gain dan yang kedua adalah mengurangi kerugian ketika melakukan cut loss. Strategi ini bisa dipakai pada dua tren, bullish maupun bearish tergantung pada posisi harga saham yang kamu punya.

  1. Wait and see

Ini adalah bentuk strategi yang paling banyak dipakai ketika berada dalam fase sideways atau kondisi psikologis pasar sedang tidak biasa (terjadi anomali pasar). Hal yang penting dilakukan adalah kamu harus tetap berpikir objektif dan logis. Dari semua strategi yang ada usahakan untuk tidak panik dan FOMO. Strategi wait and see bukanlah membiarkan dan melupakan portofolio kamu dibawa oleh pasar melainkan membaca dengan seksama arah tren selanjutnya sehingga perilaku investasi kamu bisa lebih bijak dan mengambil keputusan yang berdasar, tidak terpengaruh psikologis pasar.

Modul FinanSiap

Atur keuangan pribadi agar kamu bisa #FinanSiap

Modul 1: Perencanaan Keuangan

Mau beli rumah atau melanjutkan studi ke luar negeri? Yuk, tentukan tujuanmu dan rencanakan keuanganmu dari sekarang!
Lebih Lanjut

Modul 2: Pengenalan Jenis Investasi

Ingin belajar investasi? Bingung bedanya investasi saham dengan reksa dana? Mana yang lebih baik, investasi emas atau properti? Cari tahu di sini!
Lebih Lanjut

Modul 3: Investasi Saham untuk Pemula

Mau investasi saham tapi bingung mulai dari mana? Kenali manfaat dan risikonya dengan belajar investasi saham di sini!
Lebih Lanjut