Beda Tujuan, Beda Koleksi Sahamnya

“Ikutan grup ini aja, kita bisa tahu saham yang cuan besok.”

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, ketika mulai berinvestasi ada baiknya kamu sudah mengetahui apa tujuan dari investasi yang kamu lakukan. Apakah untuk jangka pendek atau panjang? Setiap orang tentu punya tujuan investasi yang berbeda. Ada yang ingin berinvestasi untuk hari tua ketika sudah tidak produktif atau sekedar mengambil keuntungan dari investasi untuk liburan. Itu sah-sah saja selama kamu memilih instrumen investasi yang tepat.

Jika kamu masih tergiur dengan ajakan orang lain atau rekomendasi tanpa pernah tahu apa dasar di balik argumen tersebut artinya kamu belum siap untuk berinvestasi. Apalagi soal saham yang saat ini menjadi salah satu primadona dari berbagai instrumen investasi yang tersedia. Wajar jika banyak sekali komunitas yang ada di dalamnya. Tapi, bagaimana agar kamu tidak salah arah dalam investasi saham. 

Setelah kamu menentukan tujuan investasi, ada baiknya kamu juga menentukan saham apa saja yang ingin dikoleksi. Berapa lama kamu ingin mempunyainya sampai apakah saham ini cocok dengan tujuan investasi yang kamu buat? Sebenarnya, bursa sendiri telah memiliki sejumlah kategori atau kelompok saham dengan berbagai kriteria. 

Dividend Stock 

Jika kamu adalah tipikal yang sibuk dan sulit untuk memantau pergerakan saham sehingga sulit untuk mengharapkan capital gain. Kamu bisa memilih saham berdasarkan kategori dividen stock. Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri sudah mengelompokkan sejumlah saham yang rajin memberikan dividen selama tiga tahun terakhir dan memiliki pertumbuhan dividen tahunan tertinggi (dividend yield) di bursa. Namanya, IDX High Dividend 20.

Karakteristik perusahaan yang sering membagikan dividen biasanya sudah masuk dalam kategori berikut. 

  1. Secara fundamental keuangan biasanya perusahaan yang sering membagikan dividen tergolong stabil dan selalu mencetak laba. Meski laba tidak bisa menjadi patokan, tetapi kamu bisa melihat pertumbuhan laba bersih yang terus meningkat tiap tahun, sehingga perusahaan bisa percaya diri membagikan dividen. 
  2. Volatilitas pada perusahaan ini tergolong rendah. Volatilitas adalah pergerakan harga yang dialami oleh saham dalam periode tertentu. Nah umumnya saham yang tergabung dalam IDX High Dividend 20 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Sehingga risiko untuk loss jauh lebih rendah. 
  3. Biasanya dikenal sebagai saham-saham blue chip yaitu, saham dari perusahaan yang memiliki reputasi nasional dari sisi kualitas, kemampuan, dan keandalan untuk beroperasi yang menguntungkan dalam berbagai situasi ekonomi baik dengan keadaan baik maupun buruk. Kamu juga biasanya mengenal produk yang dihasilkan. 

Growth Stock

Berbeda dengan dividend stock, jika kamu adalah tipikal yang ingin mengambil keuntungan lewat capital gain. Kamu bisa mencoba kategori IDX Growth 30. Saham-saham yang tergolong second liner atau tidak memiliki kapitalisasi yang besar tetapi secara pertumbuhan bisnis cukup menjanjikan.  Oleh karena itu, kamu dapat mengandalkan capital gain sebagai patokan expected return kamu. Ini cocok untuk sebagian orang yang memiliki tujuan jangka pendek. 

Perlu diingat, beberapa saham dalam kategori ini juga masuk ke dalam saham spekulatif atau tergolong tidak konsisten. Artinya tahun ini bisa saja perusahaan mendapatkan potensi penghasilan tetapi tahun depan belum tentu. Adapun ciri dari saham-saham yang masuk ke dalam kategori growth stock antara lain:

  1. Secara fundamental, nilai yang tidak terlalu mahal dan punya identik dengan earning per share yang konsisten naik. Laba bersih perusahaan dalam periode tertentu juga terus tumbuh
  2. Sektor/industri saham tersebut sedang bagus atau “naik daun.”
  3. Hanya sedikit emiten yang membagikan dividen tetapi ada juga yang tidak membagikan sama sekali.

Defensive Stocks 

Terakhir, bagi kamu yang punya tujuan investasi jangka panjang dan ingin memiliki portofolio dengan fundamental yang kokoh dan tidak terpengaruh dengan kondisi makro ekonomi, defensive stock bisa menjadi kebutuhan. Jadi, ketika kondisi ekonomi suatu negara sedang turun, saham perusahaan tersebut tidak terlalu terpengaruh.

Saham ini cocok untuk investasi jangka panjang tanpa melihat expected return berasal dari dividen atau capital gain. Meski perusahaan yang tergolong defensive stocks dapat kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Kamu juga perlu awas jika produk mereka hilang dipasaran. Sebab, hanya sedikit perusahaan yang bisa bertahan lama di sebuah industri. 

Kalau kamu tertarik mencari saham yang masuk dalam kategori defensive stock, kamu bisa lihat ciri-cirinya sebagai berikut:

  1. Emiten perusahaan yang memproduksi produk yang dikonsumsi masyarakat umum secara luas dan konsisten seperti kebutuhan pokok, rokok, penyedia tol, logististik dsb.
  2. Cenderung memberikan return dalam bentuk dividen dibanding capital gain.
  3. Pertumbuhan perusahaan tidak terkait dengan pertumbuhan siklus ekonomi. Artinya kondisi perusahaan stabil dalam menghadapi keadaan ekonomi apapun.   

Kategori defensive stock tidak hanya bergantung pada analisa fundamental saja, tetapi juga cara kamu membaca fenomena pasar. Mungkin banyak dari kita yang merasa suatu produk menjadi top of mind dalam industrinya, tetapi secara kondisi keuangan justru babak belur atau sebaliknya. Menggabungkan keduanya sebagai modal awal untuk menilik perusahaan dengan kategori defensive stock bisa sangat membantu. 

Modul FinanSiap

Atur keuangan pribadi agar kamu bisa #FinanSiap

Modul 1: Perencanaan Keuangan

Mau beli rumah atau melanjutkan studi ke luar negeri? Yuk, tentukan tujuanmu dan rencanakan keuanganmu dari sekarang!
Lebih Lanjut

Modul 2: Pengenalan Jenis Investasi

Ingin belajar investasi? Bingung bedanya investasi saham dengan reksa dana? Mana yang lebih baik, investasi emas atau properti? Cari tahu di sini!
Lebih Lanjut

Modul 3: Investasi Saham untuk Pemula

Mau investasi saham tapi bingung mulai dari mana? Kenali manfaat dan risikonya dengan belajar investasi saham di sini!
Lebih Lanjut